Istilah best seller di Indonesia pun makin bermakna manakala sudah ada buku di Indonesia yang bisa menembus angka penjualan 50.000 eksemplar dalam setahun. Pembaca buku Indonesia disodori dengan variasi tema buku yang beragam dan penggarapan yang juga baik.
Di samping itu, muncul fenomena pemberi efek terbesar dalam pasar buku Indonesia yang menarik untuk dicermati. Saya hanya menyusun lima pengaruh terbesar meskipun pandangan ini tidak lepas dari subjektivitas dan pengamatan terbatas
saya.
Berikut lima efek tersebut:
1. Efek MLM.
Multilevel Marketing baru mulai bertumbuh di Indonesia pada pertengahan 90-an. Beberapa MLM yang cukup punya nama dan eksis hingga kini adalah Amway, High Desert, Tianse, CNI, dan juga KK Internasional. MLM ini berkembang mirip dengan partai dan mereka memiliki leader-leader kharismatik yang diikuti ibarat nabi. Sekali sang leader bilang bahwa sebuah produk bagus dan bisa memotivasi maka produk itu pun akan diburu. Maraknya training motivasi dan pengembangan diri tidak terlepas dari kehadiran MLM di Indonesia yang tepat masuk menjelang krisis moneter. Alhasil buku-buku, seperti Rich Dad Poor Dad, Cashflow Quadrant, Skill with People, Berpikir dan Berjiwa Besar, Financial Revolution langsung mencetak hit sebagai bacaan wajib para network marketer. Sampai kini pun MLM masih menjadi penyumbang angka penjualan buku yang signifikan bagi penerbit ketika buku yang diterbitkan betul-betul pas dengan alam mereka. Fenomena terakhir adalah buku The Secret dan Quantum Ikhlas yang mencetak hit karena sangat popular di kalangan MLM untuk mempraktikkan the law of attraction. Saya belum memiliki data valid, namun intuisi saya mengatakan bahwa MLM punya pengaruh besar terhadap pasar buku di Indonesia. Anggota mereka bisa terdiri dari ratusan ribu orang. Setiap tahun ada even bulanan yang mengundang ratusan hingga ribuan orang. Saya pernah menyaksikan seorang MLM leader yang mengusung buku di tangannya mampu menyihir 80% dari peserta even untuk segera membeli buku tersebut.
2. Efek Andy Noya
Efek Andy Noya baru terjadi pada 2007 saat program talkshow Kick Andy yang disiarkan Metro TV melejit ratingnya. Andy mengundang tokoh-tokoh yang tidak biasa dan sangat menarik untuk disimak. Alhasil, tokoh-tokoh itu menyentuh juga para pesohor di dunia buku sehingga buku-buku pun bisa terangkat. Andy Noya mungkin mirip dengan Oprah Winfrey meskipun efeknya belum sedahsyat Oprah. Namun, saya percaya pada tahun-tahun ke depan Andy Noya bisa bergandengan dengan banyak penerbit untuk melambungkan sosok tertentu dan buku tertentu. Efek Andy Noya patut diperhitungkan dalam pasar buku Indonesia karena sudah terbukti dengan Laskar Pelangi karya Andrea Hirata.
3. Efek Gramedia
Gramedia tidak bisa dinafikan sebagai penyumbang hit utama dalam pasar buku Indonesia. Tahun 2007, Gramedia mampu membukukan omzet sekitar Rp7 T (sekitar 40-45% market share nasional). Kita ketahui kini Gramedia telah membuka lebih dari 80 toko seluruh Indonesia dan berambisi menjadi 100 toko pada tahun ini. Gramedia juga punya toko buku kebanggaan yaitu Gramedia Matraman yang merupakan terbesar di Asia Tenggara. Efek Gramedia sangat ampuh jika buku diletakkan di floor display ataupun display khusus dengan kriteria: buku baru, buku best seller, buku pilihan. Pintu masuk Gramedia menjadi penting untuk mengikat perhatian pengunjung terhadap buku yang diusung. Jika sebuah penerbit fokus saja untuk membina hubungan baik dengan Gramedia, paling tidak sudah bisa mendapatkan kue pasar buku Indonesia yang sangat signifikan. Saya kira grup Agro Media salah satunya melejit karena efek Gramedia.
4. Efek Media Cetak
Media cetak juga memberikan efek bagus dalam penjualan buku meskipun tidak sekuat efek yang saya sebutkan tiga pertama. Di antara beberapa media cetak yang sangat berpengaruh adalah Kompas, Tempo Harian (Ruang Baca), Republika, Tempo majalah, GATRA. Resensi ataupun ulasan buku di media cetak semacam ini patut diperhitungkan oleh para penerbit.. Memang belum ada media cetak memiliki efek seperti New York Time ataupun Publisher Weekly di Amerika dan Eropa. 5. Efek Pameran Buku IKAPI-DKI Dua pameran buku tersukses yang digelar IKAPI-DKI: Pesta Buku Jakarta dan Islamic Book Fair memberikan efek luar biasa bagi promosi dan penjualan buku. Besarnya efek ini membuat Gramedia memborong 32 stan dan Agro Media 15 stan pada even tahun ini. Ratusan penerbit tidak mendapatkan jatah stan dan masuk daftar tunggu. Efek pameran ini sungguh luar biasa menarik pengunjung bahkan
mengalahkan even bergensi seperti Indonesian International Book Fair yang digelar oleh IKAPI Pusat di JHCC. Transaksi dari even ini mencapai puluhan miliar rupiah dalam setiap pelaksanaannya.
Saya masih memikirkan efek-efek lain dengan pertimbangan adalah pemberi efek untuk jangka panjang. Mungkin di antara rekan-rekan punya tambahan lain? Silakan untuk menambah efek lain. Mudah-mudahan berguna sebagai bahan pertimbangan marketing pada tahun 2008 ini.